Senin, 26 Desember 2011

Jajaran Pelatih Benahi Skuad PSIR


Rembang-Tim pelatih PSIR mempunyai tugas berat dalam mempersiapkan anak asuhnya menghadapi pertandingan berikutnya. Barisan tengah yang kurang solid karena cideranya Mugiarso dan Tadis Suryanto harus segera diantisipasi guna menghadapi pertandingan tandang melawan tuan rumah Persipasi Bekasi, tanggal 7 Januari mendatang.
Walau berhasil menang 1-0 saat menjamu Persepar Palangkaraya di laga perdana Sabtu kemarin di Stadion Krida Rembang melalui gol Cristian Lenglolo di menit 75, jajaran pelatih PSIR masih kurang puas dengan eksistensi barisan gelandang tim yang diasuhnya. Untuk itu jeda waktu yang ada sekira 3 minggu difokuskan untuk meningkatkan performa barisan tengah dan merombak pola yang diajarkan pelatih Amaya.
Saat ditemui, pelatih kepala PSIR Haryanto menerangkan, dalam sesi latihan pagi dan sore anak asuhnya mulai meninggalkan pola lama 3-5-2, memainkan skema 4-3-1-2. Perubahan mendasar dari pola baru yang diterapkan yaitu dua pemain diplot sebagai wing back kiri dan menempatkan seorang second striker.
Selain itu lanjut Haryanto, tim pelatih juga terus memadukan lini tengah secara acak, supaya ketika siapapun diturunkan di barisan gelandang dapat saling bekerja sama. Demikian pula di barisan depan yang diisi 4 pemain, William Moreno, Lubis Sukur, M Husen dan Koko Hartanto, mereka terus diacak agar bisa saling memahami karakter maing-masing, khususnya dalam passing di kotak penalti dan bisa mencipta gol.
Saat disinggung upaya manajemen meningkatkan performa barisan tengah apakah akan merekrut pemain baru, Haryanto menjawab hal tesebut baru diwacanakan dan pihak manajemen juga sudah mnginstruksikan bahwa yang lebih urgen dilakukan jajaran pelatih yakni meningkatkan performa gelandang yang ada sekarang. Pasalnya mereka adalah pemain muda yang jelas memiliki stamina lebih tinggi, tinggal meningkatkan kemampuan skill individu dan net working agar lebih solid dalam setiap pertandingan.


Sumber : cbfmrembang

Tidak ada komentar:

Aku

Kuda binal yang menembus pasir-pasir putih

melayang menuju padang ilalang
kerasnya hidup hanyalah ujaran keadaan
pilihan hidup membuat manusia berdaulat

di jalan-jalan malam, lampu kota hanya menyeru
kemana tambatan kaki melaju
deru suara bereteriak memecah kelam
diri memang milik-Nya
tak kuasa menjemput sebelum ajal mendekat

kepada perempuan dengan senyum matahari
sang Evawani yang berjalan di kalbuku
air tangis ini hanya sebatas waris
dengan boneka manis yang tersenyum kepadamu
kala rangkaku telah ditelan tanah

dimana revolusi tidak pernah berakhir
aku mau hidup seribu tahun lagi*


By : Aseng Jayadipa