Jumat, 09 Desember 2011

PT. BPAP Mengganti Logo PSIR Rembang


 Logo PSIR Rembang Sebelumnya


Logo baru PSIR Rembang

Rembang – Setelah mengganti logo PSIR Rembang, dari yang semula padi dan kapas menjadi jangkar, manajemen PT Bina Putra Alam Persada memastikan tidak akan merubah nama PSIR Rembang.

Sempat tersiar kabar dikalangan para suporter, PSIR akan berganti nama Rembang FC. Tetapi Direktur Media PT Bina Putra Alam Persada, Daenuri langsung membantah hal itu. Menurutnya saat mendaftarkan diri ke PSSI beberapa waktu lalu, pihaknya menggunakan nama PSIR, merupakan singkatan Persatuan Sepak Bola Indonesia Rembang.

Kalaupun muncul nama lain seperti Rembang FC, Daenuri menganggap hanya sebatas variasi wacana saja, supaya lebih keren. Ia mencontohkan saat perubahan logo tim, melewati sejumlah tahapan. Rancangan gambar diselesaikan dulu, kemudian disampaikan kepada penasehat yang juga Bupati Rembang Moh. Salim. Setelah jajaran pengurus sepakat, barulah logo jangkar dipatenkan. Apalagi merubah nama, tentu butuh proses panjang.

Daenuri menambahkan pihaknya juga sudah menuntaskan rancangan kostum pemain. Dalam waktu dekat ini akan dibuat oleh pihak sponsor. Yang jelas mengusung konsep warna orange – orange dan biru – biru (kostum laga tandang), ingin lebih menonjolkan ciri khas Rembang, sebagai daerah bahari.

Sementara itu Sekjen Gabungan Suporter Rembang, Ahmad Afif berharap sebaiknya Laskar Dampo Awang tetap mempertahankan nama PSIR, untuk menghormati cikal bakal pendiri tim pada masa lalu. Bagaimanapun PSIR sudah pernah memberikan warna persepakbolaan Indonesia, dari era kompetisi galatama, perserikatan, divisi utama sampai pada era sekarang liga profesional level II.

Menurutnya sebuah sejarah panjang, perlu mendapatkan apresiasi dan dukungan. Diharapkan dengan menghargai sejarah, PSIR akan menuai berkah, tahun depan lolos ke kasta tertinggi, Level I.

Tidak ada komentar:

Aku

Kuda binal yang menembus pasir-pasir putih

melayang menuju padang ilalang
kerasnya hidup hanyalah ujaran keadaan
pilihan hidup membuat manusia berdaulat

di jalan-jalan malam, lampu kota hanya menyeru
kemana tambatan kaki melaju
deru suara bereteriak memecah kelam
diri memang milik-Nya
tak kuasa menjemput sebelum ajal mendekat

kepada perempuan dengan senyum matahari
sang Evawani yang berjalan di kalbuku
air tangis ini hanya sebatas waris
dengan boneka manis yang tersenyum kepadamu
kala rangkaku telah ditelan tanah

dimana revolusi tidak pernah berakhir
aku mau hidup seribu tahun lagi*


By : Aseng Jayadipa