Senin, 12 Desember 2011

Hotel Bernuansa China Kuno di Rembang

Hotel Antika yang terletak di jantung Kabupaten Rembang, Tepatnya di Jl. Erlangga no.17 Rembang, Jawa Tengah. Dahulu kala orang Rembang menyebut jalan ini sebagai Jalan Gambiran, mayoritas penduduk di sepanjang jalan ini adalah etnis Tionghoa. Beragam rumah di sepanjang jalan ini berarsitekturan bangunan kuno China, sepi dan tenang suasana di daerah ini mungkin menjadi alasan tersendiri bagi pengelola Hotel Antika dan ditambah suasana Kawasan Pecinan yang mungkin dimanfaatkan untuk membuka peluang bisnis Perhotelan di Kawasan ini. Terobosan yang menarik bagi tamu Hotel untuk sejenak bersantap ria dan sejenak beristirahat di Hotel  Antika, sambil menikmati wisata di Kabupaten Rembang.























Categories Room

Standart Room :
Facilities: AC, TV, Hot Water, Breakfast

Economic Room :
Facilities: AC, TV, Hot Water, Breakfast

VIP Room :
Facilities: AC, TV, Hot Water, Refrigerator, Fruit, Long Sofa, Choice of Breakfast

Superior Room :
Facilities: AC, TV, Hot Water, Refrigerator, Choice of Breakfast

Antika hotel di lengkapi dengan Restaurant oriental yang menyediakan berbagai macam menu cita rasa khas Oriental. Diiringi dengan alunan musik oriental, anda dapat menikmati menu Chinese Food, snack–snack dan minuman yang bisa anda dapatkan dengan harga yang relatif terjangkau. Selain digunakan sebagai Restaurant, bagian ruangan dari rumah kuno Antika Hotel juga digunakan sebagai Meeting Room dengan fasilitas-fasilitas penunjang yang anda butuhkan. Pada lantai atas rumah kuno digunakan sebagai Galeri berbagai macam furniture dan barang-barang antik.

Dilengkapi dengan fasilitas penunjang seperti :
RESTAURANT, MEETING PACKAGE, ALL AREA HOT SPOT, LAUNDRY SERVICE, MUSHOLLA, 24 HOURS ROOM SERVICE, AREA PARKIR YANG LUAS.

Reservation :
Antika Hotel & Restaurant Rembang 
Jl. Erlangga No. 17, Rembang, Jawa Tengah, Indonesia.
PHONE : (+62-295) 6998800 - FAX : (+62-295) 6998900
Email : antikahotel@yahoo.co.id

Tidak ada komentar:

Aku

Kuda binal yang menembus pasir-pasir putih

melayang menuju padang ilalang
kerasnya hidup hanyalah ujaran keadaan
pilihan hidup membuat manusia berdaulat

di jalan-jalan malam, lampu kota hanya menyeru
kemana tambatan kaki melaju
deru suara bereteriak memecah kelam
diri memang milik-Nya
tak kuasa menjemput sebelum ajal mendekat

kepada perempuan dengan senyum matahari
sang Evawani yang berjalan di kalbuku
air tangis ini hanya sebatas waris
dengan boneka manis yang tersenyum kepadamu
kala rangkaku telah ditelan tanah

dimana revolusi tidak pernah berakhir
aku mau hidup seribu tahun lagi*


By : Aseng Jayadipa