Sabtu, 17 Desember 2011

PSIR Targetkan Tiga Poin di Laga Perdana Divisi Utama PSSI


Bola.net - PSIR Rembang, menargetkan poin penuh di laga perdana Divisi Utama PSSI dengan menekuk Persepar Palangkaraya di Stadion Krida Rembang, Sabtu (17/12).

"Pada laga perdana, kami hanya memiliki 12 pemain yang telah mengantongi status dari PSSI. Padahal kami memiliki 22 pemain dalam skuad. Namun, kendala itu akan kami tutup dengan motivasi tinggi untuk memenangi pertandingan," ujar Pelatih PSIR Haryanto.

Ia menyebutkan, dalam daftar pemain yang belum mengantongi status dari PSSI itu, seorang di antaranya adalah striker berasal dari Kamerun Cristian Leng Lolo.

"PSIR memiliki catatan manis saat berlaga dengan Persepar Palangkaraya. Pada kompetisi Divisi I musim 2007-2008, PSIR mampu menang 2-1 atas tim yang berjuluk Macan Borneo tersebut. Catatan ini juga bisa menjadi motivasi," kata dia.

Pihaknya juga optimistis bahwa mental Deni Tarkas dan kawan-kawan berada dalam kondisi siap secara penuh menyusul momentum kemenangan 1-0 atas Persip Pekalongan pada latih tanding terakhir, 13 Desember 2011, di Stadion Kraton Pekalongan.

"Kami akan menerapkan skema permainan 4-4-2 untuk meredam permainan tim tamu yang diprediksi juga akan tampil menyerang," kata dia.

Pelatih Persepar Palangkaraya Agus Setiyono menyatakan, akan berupaya mencuri satu poin dari kandang Laskar Dampo Awang, julukan PSIR.

"Kami akan memaksimalkan peran tiga pemain asing masing-masing Goerge Jose Oyedepo (stoper), Roberto Kwateh (striker), dan Jafat Uradi (striker)," kata dia. 


Sumber : bola.net

Tidak ada komentar:

Aku

Kuda binal yang menembus pasir-pasir putih

melayang menuju padang ilalang
kerasnya hidup hanyalah ujaran keadaan
pilihan hidup membuat manusia berdaulat

di jalan-jalan malam, lampu kota hanya menyeru
kemana tambatan kaki melaju
deru suara bereteriak memecah kelam
diri memang milik-Nya
tak kuasa menjemput sebelum ajal mendekat

kepada perempuan dengan senyum matahari
sang Evawani yang berjalan di kalbuku
air tangis ini hanya sebatas waris
dengan boneka manis yang tersenyum kepadamu
kala rangkaku telah ditelan tanah

dimana revolusi tidak pernah berakhir
aku mau hidup seribu tahun lagi*


By : Aseng Jayadipa