Rabu, 14 Desember 2011

Sedikit Cerita Tentang Andik Vermansyah


Andik Vermansyah, bocah kelahiran Jember 20 tahun silam ini. Merupakan sosok seorang pemain yg sederhana. Perjalanan panjang karirnya, dimulai dari andik yang merupakan penjual es mamboo di sekitar gelora 10 september hingga menjadi seorang superstar seperti saat ini melihatkan bahwa dia merupakan contoh pemuda yang sederhana. Semangat pantang menyerah juga tertanam pada anak pasangan saman dan jumiah ini. Perpindahan kedua orang tuanya dari jember ke surabaya menjadi awal cerita andik meretas mimpinya sebagai pemain sepakbola profesional. Saat dia masih balita, ibunya yang bekerja di salah satu konfeksi di surabaya. Andik kecil turut pula di bawanya bekerja. Mungkin dari sinilah, etos kerja dan semangat pantang menyerah bocah yang mengidolakan Cristiano Ronaldo ini terbentuk. Pemuda lulusan SMA sejahtera ini, tidak pernah menyusahkan kedua orang tuanya. Dia sudah bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Termasuk membeli sepatu sepakbola. Ibu andik, jumiah bercerita "andik bisa membeli sepatu itu dari hasil jualan esnya mas". Jumiah juga menuturkan kalau andik membeli sepatu tersebut di pasar gembong (pasar barang bekas). Sepatu Andik sendiri harganya cuma 45 ribu pada waktu itu. Andik mulai mengenal sepakbola dari kakak laki-lakinya yang kedua, andik berlatih bersama. Salah satu metode yang di ajarkan kakaknya kepada andik itu sama halnya seperti orang yang memberikan pelatihan kepada anjing peliharaannya. Bola di tendang jauh oleh kakaknya dan kemudian andik berlari mengejar bola tersebut. "Tidak masalah, yang penting saya bisa berlari kencang". Tutur andik. Selain itu andik juga mempunyai tips sendiri untuk berlatih. Salah satunya berlari tiap pagi mulai dari rumahnya hingga daerah WTC (pusat penjualan Handphone) Surbaya. Rutenya melalui jembatan layang gubeng. "Sengaja mas, saya ingin lari di tempat yang ada tanjakannya". Kilah pemain timnas U-23 ini. Tips ini di perolehnya dari salah satu pemain legenda brazil, Roberto Carlos. Namun, roberto carlos dalam latihannya bukan jalanan menanjak melainkan naik turun tangga. Andik juga pernah bercerita pernah beradu lari dengan mobil taksi. "Setelah itu rasanya pengen muntah-muntah mas". Imbuhnya sambil tertawa kecil. Postur yang bukan ukuran standart seorang pemain tak membuatnya lantas menyerah begitu saja. Andik menyadari akan hal itu. Berkat usahanya yang pantang menyerah itulah, pada akhirnya mengantarkannya bisa memperkuat klub idolanya sejak kecil, Persebaya. 

Tidak ada komentar:

Aku

Kuda binal yang menembus pasir-pasir putih

melayang menuju padang ilalang
kerasnya hidup hanyalah ujaran keadaan
pilihan hidup membuat manusia berdaulat

di jalan-jalan malam, lampu kota hanya menyeru
kemana tambatan kaki melaju
deru suara bereteriak memecah kelam
diri memang milik-Nya
tak kuasa menjemput sebelum ajal mendekat

kepada perempuan dengan senyum matahari
sang Evawani yang berjalan di kalbuku
air tangis ini hanya sebatas waris
dengan boneka manis yang tersenyum kepadamu
kala rangkaku telah ditelan tanah

dimana revolusi tidak pernah berakhir
aku mau hidup seribu tahun lagi*


By : Aseng Jayadipa