Selasa, 06 September 2011

Tentang Rindumu, Lelakiku...

Rindu adalah ketika matamata sayu
Menanggalkan sebaris lengkung pelangi
Yang memudarkan bias cahaya
Di belah ranum rona jingga pipi

Sementara hujan yang membadai di bilangan cakrawala
Menembus batas ingin
Melarung bersama kabar angin
Yang kau kirim saat matamata rindu
Semakin meninggalkan lebat gerimis

Mungkin anjungan kapal
Yang melaju di buritan lalu
Adalah kealpaan atas pesisir
Hanya di bangun dengan ketergesaan semata

Merupa melata
Menyusup di antara gundukan pasir
Lalu lesap
Bersama gulungan ombak
Dan membawamu kembali pada perempuanmu 



By : Jazilatul Rahmah Sulastri

Tidak ada komentar:

Aku

Kuda binal yang menembus pasir-pasir putih

melayang menuju padang ilalang
kerasnya hidup hanyalah ujaran keadaan
pilihan hidup membuat manusia berdaulat

di jalan-jalan malam, lampu kota hanya menyeru
kemana tambatan kaki melaju
deru suara bereteriak memecah kelam
diri memang milik-Nya
tak kuasa menjemput sebelum ajal mendekat

kepada perempuan dengan senyum matahari
sang Evawani yang berjalan di kalbuku
air tangis ini hanya sebatas waris
dengan boneka manis yang tersenyum kepadamu
kala rangkaku telah ditelan tanah

dimana revolusi tidak pernah berakhir
aku mau hidup seribu tahun lagi*


By : Aseng Jayadipa