Selasa, 06 September 2011

Rintih Hati Tak Bertepi

Rasanya Kemarin Dia Masih Ada Di Sini
Menemaniku Menyambut Mentari
Menghapus Bulir-Bulir Airmata
Melambungkan Asa dan Harapan

Ach... Semuanya Hanya Mimpi Bukan ? Ataukah Hanya Bayangan Semu yg Nampak ?

Tanya Burung Nuri Dalam Diam...
Ingin Rasanya Aku Menggapai Mimpi itu
Mengejar Asaku.. Tapi oh.. Sayapku kini Tiada Tenaga.. Tergores.. Terkoyak..!! Pedih dan Perih..

Diamku Dalam Bisu..

Adakah Kau Dengar Wahai Rajaku..
Aku tahu, Aku tak Mungkin Menembus Istanamu... Menerobos Dinding Keangkuhan.. Membawa Sejuta Kerinduan yang Terpasung.. Menantikan Uluran Tangan Kedamain..

Semakin Ku Coba Mengepakkan Sayapku.. Luka itu Semakin Perih.. Dan Akhirnya tubuh Inipun Bagai Raga tak Berpenghuni..

Hanya Seulas Senyum tipis Yang Mendendangkan Kidung Doa.. Ya Rabb.. Berilah Hambamu Kekuatan Untuk Menyampaikan Salam Rinduku Padanya..

Angin Malam.. Terbangkanlah Jerit Hatiku..
Labuhkanlah Rinduku yang tak Berdermaga.. Agar Dia tau Betapa Hati ini Tersiksa.. Lelah dan Kecewa.. Aku Merindu..



By : Jazilatul Rahmah Sulastri

Tidak ada komentar:

Aku

Kuda binal yang menembus pasir-pasir putih

melayang menuju padang ilalang
kerasnya hidup hanyalah ujaran keadaan
pilihan hidup membuat manusia berdaulat

di jalan-jalan malam, lampu kota hanya menyeru
kemana tambatan kaki melaju
deru suara bereteriak memecah kelam
diri memang milik-Nya
tak kuasa menjemput sebelum ajal mendekat

kepada perempuan dengan senyum matahari
sang Evawani yang berjalan di kalbuku
air tangis ini hanya sebatas waris
dengan boneka manis yang tersenyum kepadamu
kala rangkaku telah ditelan tanah

dimana revolusi tidak pernah berakhir
aku mau hidup seribu tahun lagi*


By : Aseng Jayadipa