Selasa, 06 September 2011

Elegi Cinta semusim


Pada pendar bola matamu
Sebening tatap mengecap bahagia
Meruam dalam nanar
Serupa anak api menjilat tepian duka
Dalam diam berwarna bisu
Kita pun berburu jejak yang hilang
Hingga percuma menatap luka
Hanya rindu, mengutip sunyi sukma
Dan ketika kini
Celang matamu tak lagi menemu tuju
Di antara suara gigil yang ganjil
Aku merangkak berburu membuka pagi
Sebelum hari terbilas warna
Ku bius mimpi bersusun janji

By : Jazilatul Rahmah Sulastri

Tidak ada komentar:

Aku

Kuda binal yang menembus pasir-pasir putih

melayang menuju padang ilalang
kerasnya hidup hanyalah ujaran keadaan
pilihan hidup membuat manusia berdaulat

di jalan-jalan malam, lampu kota hanya menyeru
kemana tambatan kaki melaju
deru suara bereteriak memecah kelam
diri memang milik-Nya
tak kuasa menjemput sebelum ajal mendekat

kepada perempuan dengan senyum matahari
sang Evawani yang berjalan di kalbuku
air tangis ini hanya sebatas waris
dengan boneka manis yang tersenyum kepadamu
kala rangkaku telah ditelan tanah

dimana revolusi tidak pernah berakhir
aku mau hidup seribu tahun lagi*


By : Aseng Jayadipa