Rabu, 07 September 2011

Rindu Gagu

Setangkai edelweis, anggur merah, seiring lembutnya musik blues

Mengulum cinta seindah lazuardi

Pada getaran rasa yang kita sebut rindu

Aku pada puisimu



Dan kau pada sajakku

Menyatukan netra pada dalih senggama rasa

Hingga pergumulan kata membanjir di sudut sofa

Sementara aku masih di sini

Terdiam pun gagu

Bersama rindu membisu

Saat kenangan berlalu

Di mana tika kau ucap



: rindumu hanya untukku 




By : Jazilatul Rahmah Sulastri

Tidak ada komentar:

Aku

Kuda binal yang menembus pasir-pasir putih

melayang menuju padang ilalang
kerasnya hidup hanyalah ujaran keadaan
pilihan hidup membuat manusia berdaulat

di jalan-jalan malam, lampu kota hanya menyeru
kemana tambatan kaki melaju
deru suara bereteriak memecah kelam
diri memang milik-Nya
tak kuasa menjemput sebelum ajal mendekat

kepada perempuan dengan senyum matahari
sang Evawani yang berjalan di kalbuku
air tangis ini hanya sebatas waris
dengan boneka manis yang tersenyum kepadamu
kala rangkaku telah ditelan tanah

dimana revolusi tidak pernah berakhir
aku mau hidup seribu tahun lagi*


By : Aseng Jayadipa