Selasa, 06 September 2011

Legenda Suzuki 500





Suzuki 500 adalah revolusi motor besar dua tak di era late ’60 to middle ’70. Tak ada pabrikan Jepang yang berani memproduksi motor kelas 500cc dua tak saat itu.

Masih penasaran sama motor yang dipakai Saksono Sosro Atmojo di Zilge, Ceko pada 1972. Kalau tidak salah ingat, pada foto Saksono yang terpasang di museum otomotif Sentul, bukan Suzuki 500 yang ditungganginya, tapi motor Inggris dua tak, BSA Bantam.


Anyway, coba baca-baca di internet tentang Suzuki 500, wow, ternyata. Suzuki 500 adalah revolusi motor besar dua tak di era late ’60 to middle ’70. Tak ada pabrikan Jepang yang berani memproduksi motor kelas 500cc dua tak saat itu.  Suzuki 500 diproduksi pertama kali pada 1968 dengan nama Suzuki 500 Five (Cobra). Gampang mencirikannya, bentuk tangki yang mirip-mirip Honda S atau Z 90, kalau bagi orang Indonesia kini. Atau yang gemar motor klasik, tahu dong Honda Dream, 307 cc. Nah tangkinya kayak gitu.

Saat itu, Cobra dianggap mampu menyaingi performa kelas 650 cc empat tak yang kebanyakan didominasi motor eropa, terutama Inggris seperti Norton dan BSA. Jepang memang pintar dalam urusan dagang, Cobra berharga jauh lebih murah daripada motor-motor Inggris tersebut.

Cobra, Titan, dan GT

Model ini tak bertahan lama, pada 1969, keluarlah Suzuki T 500 II Titan dengan tangki agak kotak. Perubahan signifikan secara teknis ada di panjang wheelbase. Wheelbase Titan lebih panjang dari Cobra. Ini untuk makin memudahkan handling motor dua tak bertenaga 46 hp pada 7,000 rpm dan 5.5 kg-m (37.5 lb-ft) pada 6,000 rpm ini.

Titan lebih bertenaga 1 hp ketimbang Cobra. Titan berikutnya, T 500 III juga 47 hp pada 700 rpm. Selanjutnya adalah Titan R, Titan J, dan Titan K, Titan L, dan terakhir Titan M pada 1975. Suzuki 500 Model T ini benar-benar berhenti produksi pada 1977 digantikan model GT yang juga memiliki varian 500 cc. Di Indonesia, saya sendiri pernah melihat beberapa GT 380 teronggok di bengkel komunitas motor antik di Jakarta dan Bekasi.

Mengguncang Dunia Balap

Cobra menggebrak dunia balap motor dunia dengan ikutan di Daytona 200 Mile Race pada 1968. Dua Cobra standar yang diturunkan berhasil finish di urutan kelima dan sembilan dari 80 motor.

Production bike, tidak seperti Moto GP saat ini, GP jaman dulu diikuti oleh motor-motor yang diproduksi massal. Balapan seperti ini sekarang ada di Superbike. Itulah sebabnya, sejak turun di ajang Daytona, popularitas Suzuki 500 melonjak di seluruh dunia. Metode pemasaran seperti ini lantas diikuti oleh Yamaha XS 650 (empat tak). Motor legendaris era 1970-an ini juga turun di Daytona dan merontokkan dominasi motor Bule (Inggris, AS, dan Eropa) di dunia balap. Beberapa pembalap GP dunia tercatat menunggangi Suzuki 500. Yang paling identikadalah Jack Findlay dari Australia. Orang Australia hingga kini menganggap Jack salah satu pahlawan olahraga bangsa itu hingga dibuatkan monumen patungnya. Jack memenangi GP Ulster, 1971 dengan Suzuki 500 modifikasi rangka (The Jada).




Jack sadar kekurangan Suzuki 500, yaitu mudah goyang rangkanya jika digas penuh. Pembalap lain umumnya memakai rangka bikinan mekanik Inggris Colin Seeley untuk mengatasi masalah ini. Jika membaca postingan Indonesia Punya Pembalap Moto GP Lho, masalah ini juga dihadapi Saksono, pembalap GP asal Indonesia di era yang sama dengan Jack Findlay. Bedanya, Saksono nekat menggunakan rangka standar di Zilge pada 1972. Karena pesanan rangka Seeley baru datang setelah race.

Ternyata, bagi Jack Findlay, rangka Seeley pun masih kurang kokoh, makanya ia membuat rangka sendiri bersama Danielle Fontana. Rangka dan Suzuki 500 ciptaannya itu lantas diberi nama The Jada. 

Pada 1973, dengan Suzuki 500 , Jack memenangi Isle of Man Production TT Races di Inggris. Kali ini, Suzuki Italia menyeponsorinya dengan membuatkan pendingin air (radiator). Jack dianugerahi sebagai the best privateer pada GP 500 sepanjang 1966-1968 

Tidak ada komentar:

Aku

Kuda binal yang menembus pasir-pasir putih

melayang menuju padang ilalang
kerasnya hidup hanyalah ujaran keadaan
pilihan hidup membuat manusia berdaulat

di jalan-jalan malam, lampu kota hanya menyeru
kemana tambatan kaki melaju
deru suara bereteriak memecah kelam
diri memang milik-Nya
tak kuasa menjemput sebelum ajal mendekat

kepada perempuan dengan senyum matahari
sang Evawani yang berjalan di kalbuku
air tangis ini hanya sebatas waris
dengan boneka manis yang tersenyum kepadamu
kala rangkaku telah ditelan tanah

dimana revolusi tidak pernah berakhir
aku mau hidup seribu tahun lagi*


By : Aseng Jayadipa