Kamis, 19 Januari 2012


Rembang-Skuad PSIR Rembang jumat sore besok saat menjamu Persik Kediri dalam partai kandang, di Stadion Krida dihinggapi problem lantaran absennya Heru Wibowo karena menjalani hukuman kartu merah, ketika melawan PSIS pada pertandingan sebelumnya.
Manajer PSIR Siswanto menyampaikan, langkah ini perlu disikapi secara cermat oleh tim pelatih, sebab Heru wibowo selama ini memperkuat barisan belakang skuad PSIR. Untuk itu lanjut Siswanto, manajemen berpesan kepada tim pelatih supaya memperkut barisan belakang PSIR, agar tidak menjadi bulan-bulanan penyerang tim lawan. Bila perlu harus mempersiapkan strategi pertahanan gerendel sembari menerapkan serangan balik cepat untuk mengacaukan konsentrasi tim lawan.
Ditambahkan, apapun kondisi dan keadaan skuad PSIR, manajemen sudah menetapkan meraih angka penuh dalam semua partai kandang. Sehingga Haryanto selaku ketua pelatih harus tepat memilih strategi dan pola yang akan dimainkan agar anak asuhnya menang atas Persik Kediri.
Sementara itu Haryanto pelatih kepala PSIR menyebutkan, akan menugaskan Agung menggantikan Heru saat bertemu Persik Kediri, besok sore. Pemain tersebut memiliki kemampuan setimpal untuk menempati posisi yang ditinggalkan sementara oleh Heru yang menjalani hukuman larangan bermain.
Haryanto menyebutkan, selain persiapan fisik dan strategi, tim pelatih juga membangkitkan semangat pemain supaya melupakan kekalahan dalam pertandingan sebelumnya, baik saat melawan Persipasi Bekasi dan PSIS Semarang. Pemain harus konsentrasi penuh untuk pertandingan besok sore saat menjamu Persik Kediri, demi mencapai target meraih angka penuh seperti yang ditargetkan manajemen tim. 
Sumber : cbfmrembang

1 komentar:

Media Techno mengatakan...

Kapan ya PSIR bisa kembali berjaya mas...?

Aku

Kuda binal yang menembus pasir-pasir putih

melayang menuju padang ilalang
kerasnya hidup hanyalah ujaran keadaan
pilihan hidup membuat manusia berdaulat

di jalan-jalan malam, lampu kota hanya menyeru
kemana tambatan kaki melaju
deru suara bereteriak memecah kelam
diri memang milik-Nya
tak kuasa menjemput sebelum ajal mendekat

kepada perempuan dengan senyum matahari
sang Evawani yang berjalan di kalbuku
air tangis ini hanya sebatas waris
dengan boneka manis yang tersenyum kepadamu
kala rangkaku telah ditelan tanah

dimana revolusi tidak pernah berakhir
aku mau hidup seribu tahun lagi*


By : Aseng Jayadipa