Selasa, 21 Juni 2011

Panasnya Hentakan Doggy Style


Group musik asal Yogjakarta Shaggydog menghentakkan suasana alun alun kota Rembang, Sabtu malam. Beberapa kali sempat terjadi perkelahian kecil antar penonton, tetapi berkat kesigapan aparat Polres Rembang, kisruh tidak sampai meluas. Secara umum pertunjukan musik yang digelar oleh salah satu produk rokok tersebut berjalan lancar dan aman.
Shaggydog mulai naik ke atas panggung sekira pukul 20.30 wib, dibarengi sorak sorai tiga ribuan penonton. Group musik yang diawaki Heru Wahyono (vokalis), Richard Bernado (gitar), Raymondus Anton Bramantoro (gitar), Aloysius Odyssei (bass), Lilik Sugiyanto (keyboard) dan Yustinus Satria Hendrawan sebagai penabuh drum itu menampilkan sejumlah lagu lagu hitsnya, semisal Honey, Hey Cantik, Di Sayidan dan sejumlah nomor lain yang mengundang para kawula muda terus berjingkrak jingkrak, dari awal hingga akhir pagelaran.
Shaggydog menajamkan image sebagai group Doggy Style yang tidak hanya mengusung aliran ska dan reggae saja, tetapi sesekali terdengar sentuhan jazz maupun dentuman rock n roll.
Suasana kian semarak ketika Heru melantunkan Di Sayidan. Lagu ini memang sangat bersejarah bagi Shaggydog, karena sangat kental dengan awal cerita berdirinya group tersebut pada tahun 1997 lalu berada di kawasan Sayidan, sebuah kampung di pinggir sungai kota Yogjakarta.
Penonton tak henti hentinya ikut bernyanyi Di Sayidan dalam balutan cuaca cerah malam itu. Hawa dinginpun berubah menjadi lebih hangat. Heru kerap kali meminta para Doggiez (sebutan pecinta Shaggydog) untuk selalu tertib, karena ia selalu ingin menebarkan virus musik yang nyaman dan membawa kedamaian, meskipun audiens “dipaksa” terus ngedance.

Tidak ada komentar:

Aku

Kuda binal yang menembus pasir-pasir putih

melayang menuju padang ilalang
kerasnya hidup hanyalah ujaran keadaan
pilihan hidup membuat manusia berdaulat

di jalan-jalan malam, lampu kota hanya menyeru
kemana tambatan kaki melaju
deru suara bereteriak memecah kelam
diri memang milik-Nya
tak kuasa menjemput sebelum ajal mendekat

kepada perempuan dengan senyum matahari
sang Evawani yang berjalan di kalbuku
air tangis ini hanya sebatas waris
dengan boneka manis yang tersenyum kepadamu
kala rangkaku telah ditelan tanah

dimana revolusi tidak pernah berakhir
aku mau hidup seribu tahun lagi*


By : Aseng Jayadipa