Jumat, 28 Oktober 2011

Roda Petualang Di Gunung Merapi Bersama BSC Cycling Club Semarang

Tour bulanan BSC Cycling Club kali ini diadakan di Gunung Merapi-Sleman, Yogyakarta. Tanggal 24-25 September 2011, Sore hari Sabtu rencana berangkat dari Semarang ke Sleman. Seperti biasa sebelum berangkat kami harus mem-packing dulu sepeda kami di truk, karena banyaknya minat dari anggota BSC Cycling Club yang berjumlah kurang lebih 30 Orang serta ada tambahan lagi dari anggota klub lain yang turut serta. Antara lain klub KOMPAK, BBC, Ngaliyan cycling Club dll. Banyaknya sepeda yang harus di angkut ke dalam truk sehingga kami harus menyusun sepeda lebih awal agar supaya tepat waktu. Sepeda kami susun 2 sap tingkat truk, dengan konstruksi yang sederhana hasil kerja bakti. Pukul 17.30 WIB penyusunan sepeda sudah selesai dan rombongan kami pun siap berangkat beriringan. Total Armada 2 Truk, 3 pick up, dan 2 mobil pribadi berangkat dari Semarang menuju Sleman. 


Pukul 22.00 WIB rombongan kami pun sampai di rumah persinggahan istirahat kami, jamuan makan malam pun sudah siap menanti, selesai bersantap ria satu persatu sepeda diturunkan dan di stel ulang agar keesokan harinya sudah siap untuk di Gowes menuju puncak Merapi. Pagi ini udara yang sejuk & dingin di pedesaan menyambut bangun tidur kami. Selesai bersiap-siap untuk aktifitas, Seluruh anggota berkumpul dihalaman untuk brieving dan doa bersama agar kegiatan gowes hari ini berjalan dengan lancar.



Tak sabar menanti untuk langsung menaklukkan medan, kami pun berangkat beriringan. Track pertama pun sudah disambut dengan tanjakan yang terus menerus hampir tidak ada turunan sedikit pun. Rute sepanjang 12 Km dibagi 3 pos istirahat, Saya pun berhenti sejenak di pos 2 setelah pos 1 terlalu pendek untuk istirahat. Pos 2 yang terletak di Jembatan Kali Adem ini cukup bagus pemandangannya untuk sekedar berfoto ria mengabadikan moment. Jembatan yang menjadi jalur banjir lahar dingin ini terlihat hampir ambles tergerus banjir. Dan banyak kegiatan pengerukan pasir di tempat ini.




Selesai berfoto dan istirahat sejenak untuk sekedar meneguk air minum, perjalan kami lanjutkan lagi dengan track yang menanjak lagi, semua track sudah berjalan aspal Hot Mix. Di perjalanan kami bertemu dengan goweser sleman yang kebetulan juga melakukan kegiatan gowes rutin. Sampailah rombongan gowes kami di gerbang Volcano Tour Merapi untuk membereskan administrasi karcis masuk lokasi, tak lupa kami pun berpose di depan gerbang. 

Jalan terus menanjak ke arah rumah Mbah Marijan, sesampai di Desa Kinahrejo kami disuguhkan pemandangan yang alami bekas letusan gunung merapi, pohon-pohon yang tumbang, tebing-tebing serta jurang aliran lava Merapi. Masih asli dan sengaja tidak dirubah untuk museum keganasan letusan Gunung Merapi.



Ternyata banyak wisatawan yang berkunjung kemari, berbondong-bondong bus, mobil pribadi, motor terpakir. Namun mereka harus berjalan 500 m untuk sampai ke rumah Mbah Marijan, bagi mereka yang ingin lebih cepat sampai bisa mengojek motor. Banyak juga penduduk setempat yang berjualan disini, dari cinderamata, warung makan, samapai persewaan Motor trail. 





Sungguh indah pemandangan Merapi, dirumah Mbah Marijan di bangun Monumen korban merapi, wartawan VIVA News dan sukarelawan lain yang dulu meninggal saat evakuasi di Merapi. sejenak beristirahat sambil berfoto dan berbelanja cinderamata untuk oleh-oleh. hari pun mulai siang rombongan segera turun ke Base Camp persinggahan. Kali ini tak perlu tenaga untuk menggenjot pedal, Jalanan turun terus sampai ke base Camp. Puas rasanya bisa menggowes di Merapi.

Tidak ada komentar:

Aku

Kuda binal yang menembus pasir-pasir putih

melayang menuju padang ilalang
kerasnya hidup hanyalah ujaran keadaan
pilihan hidup membuat manusia berdaulat

di jalan-jalan malam, lampu kota hanya menyeru
kemana tambatan kaki melaju
deru suara bereteriak memecah kelam
diri memang milik-Nya
tak kuasa menjemput sebelum ajal mendekat

kepada perempuan dengan senyum matahari
sang Evawani yang berjalan di kalbuku
air tangis ini hanya sebatas waris
dengan boneka manis yang tersenyum kepadamu
kala rangkaku telah ditelan tanah

dimana revolusi tidak pernah berakhir
aku mau hidup seribu tahun lagi*


By : Aseng Jayadipa