Tampilkan postingan dengan label Kuliner Rembang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner Rembang. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Desember 2011

Daftar Alamat dan Nomor Telepon Rumah Makan Di Rembang

Andri

Jl. Perikanan 6B Rembang - Telp.(0295) 691268




Lestari

Jl. Diponegoro 102 Rembang - Telp.(0295) 691149



Tujuh Satu
Jl.P.Sudirmn 71 Rembang - Telp.(0295) 692871

Bu Joyo
Jl. Gajah Mada 27. Rembang - Telp.(0295) 691281

Maya
Jl.Gajah Mada 48. Rembang - Telp.(0295) 692115

Canton
Jl.Kartini No 3 Rembang - Telp.(0295) 691437

Hien
Jl.Gambiran 24 Rembang - Telp(0295) 691583

Sewu Beach
Jl.Raya Lasem- Km.5 Lasem - Telp.(0295) 31387

Luwes
Jl.Raya Sumbersari - Kragan- Telp.(0295) 69281

Mitra
Jl.Raya Km. 48 - Kragan

Putri Berlian
Jl.Gajah Mada KM 3 Rembang-Telp. (0295) 69888

Mbak Ana
Jl. Pemuda no.37 Rembang-Telp. (0295) 693654

Latansa
Jl. Sunan Bonang no.1.Lasem-Telp.(0295) 531630

Sahabat
Sluke

Sendang  Kumandang
Jl. Rembang-juwana Km5 Telp.(0295) 691657

Surya gemilang
Jl. Raya Kragan

Selasa, 06 Desember 2011

Dumbeg, Makanan Khas Rembang



Kalian tentu pernah mendengar atau mencicip makanan tradisional ini kan ? Ya, Dumbeg. Makanan ini dibuat dari tepung beras, gula pasir/gula aren dan ditambahkan garam, air nira (legen) dan kalau suka  ditaburi buah nangka/kelapa muda  yang dipotong  sebesar dadu.

Kemudian tempatnya dari daun lontar (pohon nira) berbentuk kerucut dengan bau yang khas.

Cara pemasakannya adalah dengan memasaknya selama beberapa jam di dalam alat pengukus yang sebelumnya dialasi dengan kukusan yang berbentuk kerucut.

Aroma yang khas serta rasa yang nikmat dan manis seperti puding padat, membuat raa dumbeg begitu digemari.
Kabupaten Rembang contohnya, memiliki tradisi sedekah bumi yang setiap tahunnya membuat dumbeg sebagai makanan tradisional di dalam acara sedekah bumi.

Rabu, 22 Juni 2011

Selera Bahari Rembang

1. Sayur Mrica Khas Rembang
Komsumsi masyarakat Rembang utara/pesisir menyebar didaerah   Kaliori-Rembang-Lasem-Sluke - Kragan-Sarang.


















2.Lontong Tuyuhan

Makanan khas Rembang yang asli Desa Tuyuhan Pancur, daerah Lasem keselatan , warung warung sepanjang Lasem - Pamotan banyak yang menjajakan makanan ini.












3.Sirup Kawista

Minuman ini diproduksi oleh salah satu pabrik minuman di Rembang, Dibuat dari buah kawis, buah asli Rembang atau daerah yang berbatasan dengan Rembang.

Suguhan Kopi Lelet Penjual Kopi Rembang




Secangkir Kopi Asli
Ngopi adalah termasuk budaya masyarakat Rembang, Anda dapat berkeliling ke pelosok kabupaten Rembang, Pasti akan menemui warung kopi lelet yang mana penjualnya sebagaian besar adalah cewek. Cewek inilah yang akan jadi maskot sebuah warung kopi di seputar rembang, Dari berbagai warung yang ada mempunyai ciri khas service. Daerah daerah yang banyak warung kopi adalah Kota Rembang, Lasem , Pancur, Pamotan , Gunem, Sedan dan Kragan.
Semakin baik service penyaji akan semakin ramai pengunjung yang merasakan kopi, Lewat mulut ke mulut pastilah akan terkenal, ndak percaya coba ke anda mampir seputar daerah di Rembang.

Selasa, 21 Juni 2011

Kawista, Cola van Java

copyright: trubus-online.co.idGelembung-gelembung kecil segera muncul saat minuman berwarna cokelat bening itu dituang ke gelas. Sensasi rasa yang menggigit di lidah, langsung tercecap waktu ia masuk ke rongga mulut.  Bukan, minuman itu bukan kola berkarbonasi. Itu sirup kawista asal Rembang, Jawa Tengah.
Sirup itu Trubus nikmati di siang hari yang panas pada akhir Mei 2010 di kediaman Imam Tohari. Segarnya segelas sirup kawistayang dicampur es batu melenyapkan dahaga seketika. Sensasi yang terasa menggigit di lidah berlanjut ke tenggorokan. Lalu beberapa detik kemudian terasa ada gas menelusup ke hidung. Sensasi itu mirip saat meneguk minuman kola berkarbonasi.
Sirup dari buah kawista Limonia acidissima memang saru dengan  minuman asal buah kola Cola nitida. Bedanya kola berkarbonasi diolah dari buah kola yang banyak tumbuh di daratan Afrika.Kawista tumbuh di tanah air, terutama Pulau Jawa. Pantas sirup kawista kerap dijuluki java cola, atau cola van Java  alias kola dari Jawa. ‘Rasa menggigit pada minuman kola dan kawista  kemungkinan muncul dari senyawa berbentuk kristal yang berubah menjadi gas COsaat diolah,’ kata Dr Ir Raffi Paramawati, ahli teknologi pangan dari Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Serpong, Tangerang, Banten.
Awet setahun
Kristal itu  berupa senyawa komplek yang sifatnya menyerupai asam karbonat sehingga menyebabkan munculnya gelembung udara saat minuman dituang.  Sayangnya, minuman kola asli sudah jarang dijumpai di pasaran. Kebanyakan minuman kola yang beredar menggunakan perisa kola sintetis dan sudah melalui proses karbonasi di pabrik. ‘Proses karbonasi dilakukan dengan melarutkan gas CO2 ke dalam air sehingga membentuk asam karbonat H2CO3 atau soda,’ tutur Dr Ir Sri Widowati MappSc, dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor, Jawa Barat.
Dengan begitu minuman rasa kola bisa diproduksi massal sehingga mudah dijumpai di pasaran. Itu berbeda dengan sirup kawista yang hanya banyak dijumpai di Rembang. Rembang memang sohor sebagai sentra kawista sejak puluhan tahun lalu. Pohon berumur puluhan tahun tumbuh di pekarangan penduduk di Kecamatan Lasem, Sumberejo, dan Paciran. ‘Diperkirakan saat ini ada 1.000 pohon kawista tersebar di Rembang,’ tutur Suratmin, sekretaris Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang. Kerabat jeruk itu panen raya pada Februari – April.
Kawista itu berbeda dengan kawista Feronia lucida yang biasa digunakan untuk bakalan bonsai. Masyarakat menyebutnya kawista kerikil karena buahnya hanya sebesar kerikil. Sedangkan buah kawista Limonia acidissima disebut kawista batu.
Penduduk Rembang kerap mengkonsumsi buah segarnya dengan taburan gula. Cara lain diolah menjadi sirup sehingga awet. Minuman khas itu dibuat dengan merebus daging buah kawista bersama air. Air rebusan disaring dengan kain halus agar sari buah dan seratnya terpisah. Kemudian sari buah diendapkan selama 24 jam dalam wadah tertutup.
Setelah mengendap, air di lapisan atas dipisahkan dari endapan dan ditambah pengental. Setelah didiamkan selama 12 jam, air sari itu direbus sekaligus ditambahkan gula pasir. Perbandingannya 1 liter sari kawista : 700 g gula. Setelah mendidih, sari kawista disaring kembali dan dimasukkan ke dalam botol.  ‘Agar awet selama setahun, bisa ditambahkan pengawet makanan natrium benzoat sebanyak 1 sendok teh untuk 1 liter sirup,’ kata Imam Tohari, produsen sirup kawista.
Ekspor
Selain sirup, 3 tahun belakangan muncul olahan-olahan baru seperti madu mongso – dodol khas Jawa berbahan dasar tape ketan – dan selai.  ‘Selama ini serat kawista sisa pengolahan sirup belum pernah dimanfaatkan, makanya saya coba-coba mengolahnya menjadi madu mongso dan selai,’ kata Imam.
Pemilik CV Karya Bakti Makanan dan Minuman itu membuat madu mongso dengan memadukan serat kawista, tape ketan, santan, dan gula merah  yang dipanaskan di atas api kecil sampai mengental. Rasanya manis bercampur asam, dengan aroma buah segar. Sedangkan selaikawista dibuat dengan  merebus serat kawista, gula merah, dan air tape sampai mengental.
Imam memproduksi sekitar 2.500 botol sirup, 22.000 botol limun, dan 4.000 pak selai dan madumongso tiap tahun. Itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di sekitar Rembang saja.
Menurut L Agus Sukamto, peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bogor, sejatinya kawista berpotensi dikembangkan sebagai komoditas bernilai tinggi. ‘Di Sri Lanka,kawista diolah menjadi minuman dan cream sebagai komoditas ekspor,’ tuturnya. Buah didapat dari tanaman yang banyak tumbuh di pekarangan rumah dan kebun.
Di tanahair kawista adaptif ditanam di daerah kering di pesisir pantai seperti Rembang dan Jepara (Jawa Tengah), Karawang (Jawa Barat), serta Tuban (Jawa Timur). ‘Penanaman di luar Jawa seperti di Bali pun memungkinkan asal daerah kering,’ kata Agus
Pasar Jepang
Penanaman kawista kurang berkembang karena dianggap tumbuh sangat lambat. Dalam buku Plant Resouces of South East Asia (PROSEA) disebutkan kawista baru berbuah setelah umur 15 tahun. Itu jika tanaman asal biji atau setek akar. Dengan okulasi kawista bisa lebih cepat tumbuh.
Itu dibuktikan oleh Wawan K Sarip, di Karawang, Jawa Barat. Kawista asal okulasi mulai belajar berbuah umur 2 tahun. Untuk menggenjot pertumbuhan, Wawan menggunakan batang bawah rangkap 2 – 5. Dengan umur genjah, Wawan berencana mengebunkan 200 kawista di Karawang, pada 2011. Itu guna memenuhi permintaan ekspor olahan kawista ke Jepang.
Dua tahun terakhir Wawan memang getol mengolah kawista menjadi minuman segar dan dodol. ‘Tiap ikut pameran saya bisa jual 200 kemasan dodol dan 200 botol minuman,’ tutur pemilik PT Axar Qiara itu. Bahkan produk kawista milik Wawan masuk dalam 10 besar produk unggulan Karawang untuk ekspor ke Jepang. Artinya kola van java punya peluang untuk dikembangkan. 

Keras Wangi Semerbak Si Kawista

copyright detikfood.comBuah yang satu ini aslinya dari India dan di Indonesia tergolong sebagai buah yang langka. Bentuknya bulat warnanya putih sedikit cokelat kehijauan. Nyaris mirip bola batu. Hmm… jangan ditanya saat sudah masak. Aromanya sungguh wangi semerbak!
Kalau banyak orang tak kenal buah kawistamemang wajar. Karena buah yang satu ini sudah tergolong bua langka. Di daerah Rembang dan sekitarnya masih banyak ditanam pohon kawista. Karena itu pula di daerah ini dikenal sebagai produsen sirop kawista.
Nama buah ini (Limonia acidissima Feronia limonia) dan dalam jenisnya tergolong sebagai jenis jeruk-jerukan. Pohonnya tinggi dengan daun-daun yang kecil dan rindang. Buahnya  mirip buah melon tetapi lebih kecil. Warna kulit buahnya cokelat bercorak-corak kasar sedikit hijau kecokelatan.
Uniknya buah ini sangat keras kulitnya. Jika sudah masak pohon buah ini akan menebarkan aroma sangat wangi. Jika akan memakannya, tak ada cara lain kecuali dibanting hingga retak atau pecah. Isi kawis berwarna kuning kecokelatan dengan biji-biji seperti jambu biji dan sedikit berserabut daging buahnya.
Untuk menyantapnya biasanya dikeruk langsung dengan sendok dan ditaburi gula pasir. Karena rasa kawista agak asam dan tidak manis sama sekali. Bisa juga diaduk dengan es, sedikit air dan gula pasir hingga lebih asyik rasanya.
Sayang sekali kini tidak banyak lagi pohon kawista yang ditanam orang. Kadang-kadang di pasar tradisional ada penjual yang membawa buah kawista ini meskipun hanya beberapa buah saja. Kalau penasaran dengan rasanya, biasa mencicipi dodol kawista yang banyak dijual di toko oleh-oleh. Jika ingin tahu aroma wanginya, bisa mencicipi sirop kawista yang berwarna cokelat tua dan wangi!

Jumat, 08 April 2011

Buah Kawis “java cola”

Orang Rembang yang tidak mengetehui akan buah ini “kebangeten”. Kawista ini diakui menjadi buah khas dari Kabupaten Rembang. Buah dengan nama latinnya (Limonia acidissima syn. Feronia limonia) adalah buah khas kerabat dekat maja dan masih termasuk dalam suku jeruk-jerukan (Rutaceae). Asalnya adalah dari India selatan hingga ke Asia Tenggara dan Jawa.
Kawis mempunya arom yang khas sering juga disebut Java Cola karena rasanya yang mirip cola, bentuknya seperti melon, tapi lebih kecil dan tempurungnya keras. Buah ini kalau sudah matang, diolah menjadi sirup dan limun (minuman bersoda). Bisa juga dimakan langsung dengan dicampur gula atau dibuat semacam es blewah. Daging buah yang matang dicampur dengan gula, dimakan seperti serbat (sherbet), beserta bijinya atau biji itu dibuangi, atau diolah menjadi semacam ‘treacle’.

Kawista berperawakan pohon kecil dan meluruhkan daun-daunnya, tingginya mencapai 12 m, bercabang banyak dan ramping-ramping, berduri tajam dan lurus, panjangnya sampai 4 cm. Daunnya majemuk berukuran panjang sampai 12 cm, bersirip ganjil dengan rakis dan tangkainya yang bersayap sempit; anak daunnya berhadapan, 2-3 pasang, anak daun ujung berbentuk bundar telur sungsang, panjangnya sampai 4 cm, memiliki kelenjar minyak, dan jika daun diremas mengeluarkan sedikit aroma. Bunga jantan dan bunga sempurnanya berbilangan lima, berwarna putih, hijau atau lembayung-kemerahan, biasanya bergerombol dalam perbungaan yang kendur, terletak di ujung ranting atau di ketiak daun. Buahnya bertipe buah buni, berkulit keras, berdiameter sampai 10 cm; permukaan kulitnya bersisik, terlepas-lepas, berwarna keputih-putihan; daging buahnya yang harum itu berisi banyak biji yang berlendir. Bijinya berukuran panjang 5-6 mm, berbulu, berkeping biji tebal dan berwarna hijau; perkecambahannya epigeal. Batang anakannya ramping, sedikit berbiku-biku (zigzag); 1-4 lembar daun pertama berbentuk daun tunggal. Pohon kawista memperlihatkan pola perkembangan yang sederhana, yaitu berdaun, berbunga, dan berbuah dalam tahun yang sama. Di Asia Tenggara, daun kawista gugur pada bulan Januari, pembungaan diawali pada bulan Februari atau Maret, dan berbuah matang pada bulan Oktober atau November. Pohonnya tumbuh lambat dan tidak akan menghasilkan buah sampai berumur 15 tahun atau lebih.
Kandungan Daging buah kawista kira-kira sepertiga dari keseluruhan buah. Kandungan pektin buah segarnya adalah 3-5%. Setiap 100 g bagian daging buah yang dapat dimakan mmgandung: 74 g air, 8 g protein, 1,5 g lemak, 7,5 g karbohidrat, dan 5 g abu. Dalam 100 g bagian biji yang -dapat dimakan terkandung: 4 g air, 26 g protein, 27 g lemak, 3 5 g karbohidrat, dan 5 g abu. Daging buah yang kering mengandung 15% asam sitrat dan sejumlah kecil asam-asam kalium, kalsium, dan besi. Kayu kawista berwarna putih kekuningan, keras, agak berat, dan berserat kasar, tetapi urat kayunya rapat dan dapat dipolis sampai berkilap.
Di Sri Lanka, krim kawista merupakan hasil olahan dari daging buahnya. Di India juga buah kawista dimanfaatkan dengan cara yang bersamaan dengan kerabat dekatnya yaitu maja (Aegle marmelos (L.) Correa), tetapi tidak dapat menggantikan maja itu. Buah kawista yang matang memperlihatkan manfaat obat, untuk menurunkan panas, pengelat dan bersifat tonikum, dan digunakan sebagai obat sakit perut. Di Indo-Cina, duri dan kulit batang kawista dijumpai dalam berbagai ramuan obat tradisional untuk mengobati haid yang berlebihan, gangguan hati, gigitan dan sengatan binatang, dan untuk mengobati mual-mual. Kayu kawista digunakan untuk bangunan rumah, tiang dan perabotan pertanian. Getah yang dikumpulkan dari kulit kayunya dilaporkan memiliki manfaat obat, dan digunakan sebagai pengganti gom arab.
Jika anda ingin menanam Kawis, tanaman ini mampu hidup pada iklim tropik muson atau yang sewaktu-waktu kering. Tanaman ini dapat tumbuh sampai ketinggian 450 m dpl. dan toleran terhadap kekeringan dan dapat beradaptasi dengan baik pada tanah yang ringan.

Label

PSIR Rembang (26) Kabupaten Rembang (22) Sepak Bola (18) Gowes (11) Pariwisata (11) Tips-tips (11) Sajak Puisi (9) Kuliner Rembang (7) Motor (7) Petualangan (5) Rohani (4) SMKN 1 Rembang (3) Iwan Fals (2) Kopi (2) Privasi (2) Seks (2) UNNES (2) Blogger (1) Komunitas Unik (1) Ragam (1)
Powered By Blogger

Aku

Kuda binal yang menembus pasir-pasir putih

melayang menuju padang ilalang
kerasnya hidup hanyalah ujaran keadaan
pilihan hidup membuat manusia berdaulat

di jalan-jalan malam, lampu kota hanya menyeru
kemana tambatan kaki melaju
deru suara bereteriak memecah kelam
diri memang milik-Nya
tak kuasa menjemput sebelum ajal mendekat

kepada perempuan dengan senyum matahari
sang Evawani yang berjalan di kalbuku
air tangis ini hanya sebatas waris
dengan boneka manis yang tersenyum kepadamu
kala rangkaku telah ditelan tanah

dimana revolusi tidak pernah berakhir
aku mau hidup seribu tahun lagi*


By : Aseng Jayadipa