Selasa, 21 Juni 2011

Menobatkan Kampus Konservasi, Green Campus

Dari gerbang kampus UNNES (Universitas Negeri Semarang) sudah disuguhkan dengan pemandangan yang rindang, indah, asri, dan menarik untuk masuk ke dalam halaman-halaman kampus, yang sebagian besar taman  kampus. Rindangnya pepohonan yang tertata rapi oleh pembangunan & pengembangan kampus menjadikan suasana nyaman menempuh studi di kampus yang berjuluk UNNES Konservasi.  



Globe UNNES ditengah-tengah gapura yang megah menambah Kokohnya gapura UNNES.


Dibelakang gerbang unnes disambut dengan taman panjang ditengah-tengah jalan akses masuk dan keluar pintu gerbang UNNES.


Masuk kedalam lagi disambut dengan Tugu UNNES SUTERA (Sehat, Unggul dan Sejahtera) yang menjadi semboyan kampus ini, 


Semboyan UNNES SUTERA (Sehat, Unggul dan Sejahtera) di kukuhkan dibagian taman UNNES


Kebun Wisata Pendidikan Juga menghiasi kampus hijau ini, diantaranya Butterfly House, Anggrek House dan tanaman-tanaman penelitian guna mendukung sarana pendidikan mahasiswa jurusan Biologi.



Pencanangan kampus konservasi didukung dengan dibuatkannya parkir sepeda yang bertujuan agar mahasiswa lebih gemar untuk bersepeda jika berangkat ke kampus ini.


Pelabuhan Rembang Diharapkan Menjadi Pelabuhan Nasional

Bupati Rembang H Moch Salim memiliki obsesi menjadikan Pelabuhan Umum Nasional di desa Sendang mulyo Kecamatan Sluke Kabupaten Rembang menjadi pelabuhan internasional.
Bupati H Moch Salim didampingi Kepala bagian Humas Setda Rembang HM Daenuri mengatakan, pelabuhan umum di daerahnya saat ini dalam taraf pengembangan dan layak menjadi pelabuhan internasional.
Bupati menjelaskan Aspek-aspek yang mendukung pelabuhan di Sluke antara lain kedalaman laut sampai -5 LWS dicapai dengan jarak 300 m dari bibir pantai, tingkat sedimentasi kecil , telah disediakan lahan pembangunan mencakup kurang lebih 8 km dengan luas lahan sekitar 400 hektar dan lokasinya jauh dari pemukiman penduduk dan berada di jalur Pantura. Aspek pendukung lainnya yaitu tingkat kepadatan Pelabuhan Tanjung Mas dan Tanjung Perak yang cukup tinggi menjadikan pelabuhan tersebut akan berpeluang besar menjadi pelabuhan alternatif.
Lebih lanjut dikatakan bupati , potensi dan peluang pengguna jasa pelabuhan di desa Sendangmulyo Kecamatan Sluke yaitu mendukung ‘Exxon Mobil’ Blok Cepu, Pabrik Semen di Kabupaten Rembang, kelancaran angkutan bahan mineral, PLTU Sluke, dan mendukung kelancaran produk perikanan, pertanian, peternakan dan industri. Pelabuhan ini diharapkan bisa menjadi Pengungkit Perekonomian Kabupaten Rembang yang merupakan Gerbang Timurnya Jawa Tengah.
Bupati Rembang menjelaskan, pembangunan pelabuhan itu sudah dimulai tahun 2008 berupa pengadaan tiang pancang 61 titik. Pada tahapan itu disediakan anggaran dari APBN Rp 10 milyar. Kemudian tahun 2009 dilanjutkan pengadaan tiang pancang 8 titik dengan anggaran dari APBN Rp 1,5 milyar. Kemudian awal tahun 2010 telah diadakan pembersihan ranjau seluas 183 hektar. Selain itu juga diadakan reklamasi pantai untuk memperluas daratan seluas 8 hektar lebih. Pekerjaan itu dilakukan oleh PT Rembang Bangkit Sejahtera Jaya (RBSJ) bersama investor lain.
Bupati Rembang menjelaskan, pada tahun 2010 telah dibangun dermaga ukuran 8 meter dan panjang 104 meter . Pada tahun 2011 akan diadakan kegiatan kelanjutan pembangunan dermaga dengan biaya sebesar Rp 30 milyar dari dana APBN,dan di bulan Maret 2011 ini direncanakan siap diujicobakan.
Sementara itu untuk mewujudkan keamanan dan menciptakan rasa aman bagi investor, pengguna maupun masyarakat, Pemerintah Kabupaten Rembang telah mengusulkan pendirian Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) yang berlokasi tak jauh dari pelabuhan.

Panasnya Hentakan Doggy Style


Group musik asal Yogjakarta Shaggydog menghentakkan suasana alun alun kota Rembang, Sabtu malam. Beberapa kali sempat terjadi perkelahian kecil antar penonton, tetapi berkat kesigapan aparat Polres Rembang, kisruh tidak sampai meluas. Secara umum pertunjukan musik yang digelar oleh salah satu produk rokok tersebut berjalan lancar dan aman.
Shaggydog mulai naik ke atas panggung sekira pukul 20.30 wib, dibarengi sorak sorai tiga ribuan penonton. Group musik yang diawaki Heru Wahyono (vokalis), Richard Bernado (gitar), Raymondus Anton Bramantoro (gitar), Aloysius Odyssei (bass), Lilik Sugiyanto (keyboard) dan Yustinus Satria Hendrawan sebagai penabuh drum itu menampilkan sejumlah lagu lagu hitsnya, semisal Honey, Hey Cantik, Di Sayidan dan sejumlah nomor lain yang mengundang para kawula muda terus berjingkrak jingkrak, dari awal hingga akhir pagelaran.
Shaggydog menajamkan image sebagai group Doggy Style yang tidak hanya mengusung aliran ska dan reggae saja, tetapi sesekali terdengar sentuhan jazz maupun dentuman rock n roll.
Suasana kian semarak ketika Heru melantunkan Di Sayidan. Lagu ini memang sangat bersejarah bagi Shaggydog, karena sangat kental dengan awal cerita berdirinya group tersebut pada tahun 1997 lalu berada di kawasan Sayidan, sebuah kampung di pinggir sungai kota Yogjakarta.
Penonton tak henti hentinya ikut bernyanyi Di Sayidan dalam balutan cuaca cerah malam itu. Hawa dinginpun berubah menjadi lebih hangat. Heru kerap kali meminta para Doggiez (sebutan pecinta Shaggydog) untuk selalu tertib, karena ia selalu ingin menebarkan virus musik yang nyaman dan membawa kedamaian, meskipun audiens “dipaksa” terus ngedance.

Kawista, Cola van Java

copyright: trubus-online.co.idGelembung-gelembung kecil segera muncul saat minuman berwarna cokelat bening itu dituang ke gelas. Sensasi rasa yang menggigit di lidah, langsung tercecap waktu ia masuk ke rongga mulut.  Bukan, minuman itu bukan kola berkarbonasi. Itu sirup kawista asal Rembang, Jawa Tengah.
Sirup itu Trubus nikmati di siang hari yang panas pada akhir Mei 2010 di kediaman Imam Tohari. Segarnya segelas sirup kawistayang dicampur es batu melenyapkan dahaga seketika. Sensasi yang terasa menggigit di lidah berlanjut ke tenggorokan. Lalu beberapa detik kemudian terasa ada gas menelusup ke hidung. Sensasi itu mirip saat meneguk minuman kola berkarbonasi.
Sirup dari buah kawista Limonia acidissima memang saru dengan  minuman asal buah kola Cola nitida. Bedanya kola berkarbonasi diolah dari buah kola yang banyak tumbuh di daratan Afrika.Kawista tumbuh di tanah air, terutama Pulau Jawa. Pantas sirup kawista kerap dijuluki java cola, atau cola van Java  alias kola dari Jawa. ‘Rasa menggigit pada minuman kola dan kawista  kemungkinan muncul dari senyawa berbentuk kristal yang berubah menjadi gas CO2 saat diolah,’ kata Dr Ir Raffi Paramawati, ahli teknologi pangan dari Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Serpong, Tangerang, Banten.
Awet setahun
Kristal itu  berupa senyawa komplek yang sifatnya menyerupai asam karbonat sehingga menyebabkan munculnya gelembung udara saat minuman dituang.  Sayangnya, minuman kola asli sudah jarang dijumpai di pasaran. Kebanyakan minuman kola yang beredar menggunakan perisa kola sintetis dan sudah melalui proses karbonasi di pabrik. ‘Proses karbonasi dilakukan dengan melarutkan gas CO2 ke dalam air sehingga membentuk asam karbonat H2CO3 atau soda,’ tutur Dr Ir Sri Widowati MappSc, dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor, Jawa Barat.
Dengan begitu minuman rasa kola bisa diproduksi massal sehingga mudah dijumpai di pasaran. Itu berbeda dengan sirup kawista yang hanya banyak dijumpai di Rembang. Rembang memang sohor sebagai sentra kawista sejak puluhan tahun lalu. Pohon berumur puluhan tahun tumbuh di pekarangan penduduk di Kecamatan Lasem, Sumberejo, dan Paciran. ‘Diperkirakan saat ini ada 1.000 pohon kawista tersebar di Rembang,’ tutur Suratmin, sekretaris Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang. Kerabat jeruk itu panen raya pada Februari – April.
Kawista itu berbeda dengan kawista Feronia lucida yang biasa digunakan untuk bakalan bonsai. Masyarakat menyebutnya kawista kerikil karena buahnya hanya sebesar kerikil. Sedangkan buah kawista Limonia acidissima disebut kawista batu.
Penduduk Rembang kerap mengkonsumsi buah segarnya dengan taburan gula. Cara lain diolah menjadi sirup sehingga awet. Minuman khas itu dibuat dengan merebus daging buah kawista bersama air. Air rebusan disaring dengan kain halus agar sari buah dan seratnya terpisah. Kemudian sari buah diendapkan selama 24 jam dalam wadah tertutup.
Setelah mengendap, air di lapisan atas dipisahkan dari endapan dan ditambah pengental. Setelah didiamkan selama 12 jam, air sari itu direbus sekaligus ditambahkan gula pasir. Perbandingannya 1 liter sari kawista : 700 g gula. Setelah mendidih, sari kawista disaring kembali dan dimasukkan ke dalam botol.  ‘Agar awet selama setahun, bisa ditambahkan pengawet makanan natrium benzoat sebanyak 1 sendok teh untuk 1 liter sirup,’ kata Imam Tohari, produsen sirup kawista.
Ekspor
Selain sirup, 3 tahun belakangan muncul olahan-olahan baru seperti madu mongso – dodol khas Jawa berbahan dasar tape ketan – dan selai.  ‘Selama ini serat kawista sisa pengolahan sirup belum pernah dimanfaatkan, makanya saya coba-coba mengolahnya menjadi madu mongso dan selai,’ kata Imam.
Pemilik CV Karya Bakti Makanan dan Minuman itu membuat madu mongso dengan memadukan serat kawista, tape ketan, santan, dan gula merah  yang dipanaskan di atas api kecil sampai mengental. Rasanya manis bercampur asam, dengan aroma buah segar. Sedangkan selaikawista dibuat dengan  merebus serat kawista, gula merah, dan air tape sampai mengental.
Imam memproduksi sekitar 2.500 botol sirup, 22.000 botol limun, dan 4.000 pak selai dan madumongso tiap tahun. Itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di sekitar Rembang saja.
Menurut L Agus Sukamto, peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bogor, sejatinya kawista berpotensi dikembangkan sebagai komoditas bernilai tinggi. ‘Di Sri Lanka,kawista diolah menjadi minuman dan cream sebagai komoditas ekspor,’ tuturnya. Buah didapat dari tanaman yang banyak tumbuh di pekarangan rumah dan kebun.
Di tanahair kawista adaptif ditanam di daerah kering di pesisir pantai seperti Rembang dan Jepara (Jawa Tengah), Karawang (Jawa Barat), serta Tuban (Jawa Timur). ‘Penanaman di luar Jawa seperti di Bali pun memungkinkan asal daerah kering,’ kata Agus
Pasar Jepang
Penanaman kawista kurang berkembang karena dianggap tumbuh sangat lambat. Dalam buku Plant Resouces of South East Asia (PROSEA) disebutkan kawista baru berbuah setelah umur 15 tahun. Itu jika tanaman asal biji atau setek akar. Dengan okulasi kawista bisa lebih cepat tumbuh.
Itu dibuktikan oleh Wawan K Sarip, di Karawang, Jawa Barat. Kawista asal okulasi mulai belajar berbuah umur 2 tahun. Untuk menggenjot pertumbuhan, Wawan menggunakan batang bawah rangkap 2 – 5. Dengan umur genjah, Wawan berencana mengebunkan 200 kawista di Karawang, pada 2011. Itu guna memenuhi permintaan ekspor olahan kawista ke Jepang.
Dua tahun terakhir Wawan memang getol mengolah kawista menjadi minuman segar dan dodol. ‘Tiap ikut pameran saya bisa jual 200 kemasan dodol dan 200 botol minuman,’ tutur pemilik PT Axar Qiara itu. Bahkan produk kawista milik Wawan masuk dalam 10 besar produk unggulan Karawang untuk ekspor ke Jepang. Artinya kola van java punya peluang untuk dikembangkan. 

Keras Wangi Semerbak Si Kawista

copyright detikfood.comBuah yang satu ini aslinya dari India dan di Indonesia tergolong sebagai buah yang langka. Bentuknya bulat warnanya putih sedikit cokelat kehijauan. Nyaris mirip bola batu. Hmm… jangan ditanya saat sudah masak. Aromanya sungguh wangi semerbak!
Kalau banyak orang tak kenal buah kawistamemang wajar. Karena buah yang satu ini sudah tergolong bua langka. Di daerah Rembang dan sekitarnya masih banyak ditanam pohon kawista. Karena itu pula di daerah ini dikenal sebagai produsen sirop kawista.
Nama buah ini (Limonia acidissima Feronia limonia) dan dalam jenisnya tergolong sebagai jenis jeruk-jerukan. Pohonnya tinggi dengan daun-daun yang kecil dan rindang. Buahnya  mirip buah melon tetapi lebih kecil. Warna kulit buahnya cokelat bercorak-corak kasar sedikit hijau kecokelatan.
Uniknya buah ini sangat keras kulitnya. Jika sudah masak pohon buah ini akan menebarkan aroma sangat wangi. Jika akan memakannya, tak ada cara lain kecuali dibanting hingga retak atau pecah. Isi kawis berwarna kuning kecokelatan dengan biji-biji seperti jambu biji dan sedikit berserabut daging buahnya.
Untuk menyantapnya biasanya dikeruk langsung dengan sendok dan ditaburi gula pasir. Karena rasa kawista agak asam dan tidak manis sama sekali. Bisa juga diaduk dengan es, sedikit air dan gula pasir hingga lebih asyik rasanya.
Sayang sekali kini tidak banyak lagi pohon kawista yang ditanam orang. Kadang-kadang di pasar tradisional ada penjual yang membawa buah kawista ini meskipun hanya beberapa buah saja. Kalau penasaran dengan rasanya, biasa mencicipi dodol kawista yang banyak dijual di toko oleh-oleh. Jika ingin tahu aroma wanginya, bisa mencicipi sirop kawista yang berwarna cokelat tua dan wangi!

Kamis, 12 Mei 2011

PULAU SEMPU: Cagar Alam di Seputaran Segara Anakan

Objek wisata alam yang satu ini memang tidak sebeken obyek lainnya di Jawa Timur Gunung Bromo. Akan tetapi, keistimewaannya sangat unik dan jelas berbeda dari objek-objek wisata lainnya di sana.
Jauh dari kebisingan, suasananya alami, asri dan tidak ada satu pun bangunan yang berdiri di Pulau ini seperti tempat penginapan, rumah makan dan sebagainya. Pulau Sempu, adalah sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah selatan Pulau Jawa. Pulau ini berada dalam wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur. Saat ini Sempu merupakan kawasan cagar alam yang dilindungi oleh pemerintah. Di pulau tersebut ada lebih dari 80 jenis burung yang dilindungi dan juga masih terdapat hewan-hewan lainnya seperti; babi hutan, kancil, juga lutung jawa dan jika beruntung bisa menemui jejak–jejak macan tutul.
Selain berenang para pengunjung juga bisa bersantai dengan bermain voli pantai. Bagi yang menyukai suasana alam yang asli dan jauh dari kebisingan kota, Pulau Sempu merupakan tempat yang pas untuk dikunjungi.    
Keunikan berwisata di pulau ini adalah jika air sedang surut kita bisa menyebrang dari Pualu Jawa menuju Pulau Sempu. Pengunjung umumnya menyeberang pergi dan pulang pada pagi dan sore hari, karena penyebrangan hanya bisa dilakukan pada saat-saat itu dan bahkan tidak boleh lebih dari pukul 16.00 sore. Di pulau ini terdapat telaga yang disebut Segara Anakan. Dimana air yang terdapat di telaga ini berasal dari air deburan ombak yang menghantam karang. Sebagian air itu mengalir masuk ke Segara Anakan melalui karang yang berlubang besar di tengahnya.
Jika pengunjung ingin bermalam di sini anda bisa menginap di penginapan–penginapan milik masyarakat di sepanjang jalan menuju Pantai Sendangbiru. Atau bisa juga dengan membuka tenda di Pulau Sempu, namun pengunjung harus meminta izin terlebih dahulu di pos penjagaan di Sendangbiru yang terletak tepat di seberang Pulau Sempu. Hal ini dilakukan demi menjaga kelestarian habitat dan lingkungan sekitar objek wisata Cagar Alam ini. 
Powered By Blogger

Aku

Kuda binal yang menembus pasir-pasir putih

melayang menuju padang ilalang
kerasnya hidup hanyalah ujaran keadaan
pilihan hidup membuat manusia berdaulat

di jalan-jalan malam, lampu kota hanya menyeru
kemana tambatan kaki melaju
deru suara bereteriak memecah kelam
diri memang milik-Nya
tak kuasa menjemput sebelum ajal mendekat

kepada perempuan dengan senyum matahari
sang Evawani yang berjalan di kalbuku
air tangis ini hanya sebatas waris
dengan boneka manis yang tersenyum kepadamu
kala rangkaku telah ditelan tanah

dimana revolusi tidak pernah berakhir
aku mau hidup seribu tahun lagi*


By : Aseng Jayadipa